Minggu, 29 September 2013

DARI PAGI KEPADA PUISI


sepenggal embun
mencipta ilusi
tertuang dan tumpah
melalui rumput halia hitam

matahari masih ranum
langit menyorot jingga
ku peluk rindu erat-erat
dan rindupun jatuh
dengan rasa,
suka cita...

BALADA SEORANG DALAM PENJARA

aku terperangkap dalam sebuah nama
terkurung dibalik tubuh
terkepung oleh palung jeruji
meronta tapi nestapa
tak kuasa ku baca mantra

seperti api semakin membara
kali ini aku pasrah
dari biru hingga merah
mata ini kaupun jajah

JANJI ANGIN YANG MEMPESONA

AKU DIBALUT JANJI
AKAN SELALU BERTATAPAN

MELIHAT DUA MATA
MELIHAT DUA RAGA

AKU SEDANG TERPESONA
MUNGKIN KARENA KAU LAGI TAMPAN

MALAM DAN HUJAN TENGAH BERPELUK
IA TAMPAK MESRA
KITAPUN TERJEBAK SUASANA
DAN ANGINPUN TERLENA

UNTUK SEBUAH NAMA DALAM GENGGAMAN

aku tidak pernah lolos dari pelukmu
untuk sebuah nama dalam genggaman
senandungkan nada
ucapkan irama mantra 
tatkala lupa menerpa
bahwa alam tak berbusana

SECUPLIK AMNESIA

kita telah tiba di pucuk asmara
pelangi sedang bersaksi
bahkan debu lupa asalnya...

hilir mudik keresahan,
ruang kosong makin lemah

aku lupa
kamu lupa

buta angka
buta huruf
hanya ingat satu kata

itu cinta

RINDU HUJAN ADALAH RINDU YANG TAK ADA HABIS-HABISNYA


tidak semestinya kita ada diantara titik yang mempertemukan dua musim
saling tatap, sama-sama berdiri

ada yang menunggu datangnya hujan
ada yang menanti kembalinya kemarau

adalah rindu yang tidak pernah berjeda

aku dan cerita yang tak terungkap
selalu begini setiap hari
rindu yang randu

kering sudah kerinduan
hujan berlalu
tertiup tanpa arah
kembali dijajah rindu

SAJAK YANG TIDAK PERLU KAU TAU



ku dengar ranting sedang riang-riangnya
daun yang selalu setia
akan jatuh jua
akan jatuh jua

pena ini telah mengering
kertas-kertaspun dahaga
ada kalimat tertinggal
di bait terakhir
tentang sajak yang tidak perlu kau tau,
karena langitpun malu
akupun begitu