Selasa, 24 Februari 2015

UNTUK LELAKIKU

Bagaimana bisa saya meninggalkan hati tersuci di bumi?
Sementara saya sudah berlayar jauh mengarungi ombak dan samudera
Sampai saya tertambat pada satu permata,
Permata yang elok, cantiknya tak terduga…
Seseorang tersesat seperti saya, takkan bisa menolak cahayanya…
Sejauh memandang tetaplah cahayamu lentera bagi saya…

Kemudian saya berjalan, berlayar meninggalkan engkau dengan cara yang sia-sia?
Mengabaikan cahayamu yang tetap menyala di belakang…
Orang tersesat ini tidak tahu berterimakasih…
Demikian saya menjadi orang terbuang dari terang
Dan memilih gelap merangkak di dalamnya…

Namun tak pernah ada yang bisa menguasai hati ini…
Tidak pernah saya kayakan hati siapapun dengan cinta, kecuali
“Untuk Lelakiku”
Hati saya tidak akan pernah tersesat,
Hati saya terus berlayar walau tanpa angin,
Sebab ia tahu dimana tempatnya berteduh…

Hati suci sepertimu, takkan rela terbuang dengan tidak layak
Hati lembut seperti kain sutera, takkan rela jarum sekecil apapun menusuknya...
Jiwa saya tak akan bernafas tanpa jiwamu...
Jiwa saya mati...
Jiwa saya lemah...
Tanpa engkau, lelakiku...

Bersama berhentinya darah mengalir
Bersama berhentinya detak jantung ini

Cintamu saya bawa mati

LELAKI MENGAGUMKAN

Lelaki yang mengenalkanku pada alam
Bukan yang mengenalkanku pada malam

Lelaki yang membuat malam berlutut dihadapku
Bukan membuatku menyembah padanya

Lelaki yang mengajakku menaklukkan kaki gunung
Tak peduli dengan kekalahan
Percaya diri untuk selalu menggenggam kemenangan

Lelaki yang banyak mengukir kenangan
Sampai aku tenggelam di dalamnya

Lelaki yang meninggikanku
Bahwa kita adalah lebih dari pemenang
Lebih dari pejuang...

Lelaki yang mengajakku berlari,
Merebut matahari !
Dia digariskan untuk menjadi lebih tinggi diatas pelangi...

Dan kita ditakdirkan untuk menaklukkan langit !

Selasa, 17 Februari 2015

K - A - G - U - M


Aku penikmat malam
Menggeluti langit hitam
Menjajah setiap kebisingan sampai pada ketenangan

Tubuh yang menancap diatas kelembutan
Merasakan ombak dan gelombang
Ku saksikan nafas-nafas berderu pasrah dalam pelukan

Lalu ku tuliskan sajak tentang malam, tentang cinta, tentang dirimu
Tentang kemerdekaan, tentang keleluasaan nafsu
Tentang cinta yang terhapus oleh pagi, selalu !


Kesaksian,
14 Februari 2015

Selasa, 20 Januari 2015

KAMU, AKU DAN CINTA

Dunia kita sama
Berada di satu langit yang sama
Melihat bulan yang sama
Menatap pelangi yang sama
Tapi kita adalah kisah yang tak akan pernah menjadi indah
Cinta yang tidak pernah berakhir manis
Sebab cinta kita beda


". . . karena mengenalnya, aku tidak perlu menjadi kamu; dia; ataupun mereka. aku cukup menjadi aku. setelah aku takut mengenal perbedaan, namun ketika tau perbedaan itu terlalu asyik, menyenangkan, dan semakin membuatku takut untuk memiliki perasaan yang lebih dalam dari hari ini, hari esok terlebih dari hari kemarin. cintanya semakin kuat sementara ketakutanku kian merambat"

Tak ada pertemuan, saling tatap satu sama lain. Aku mengenalnya lewat tulisan, suara dan gambar.
Mengenalnya dari situ sudah cukup. Membahagiakan.
Setelah itu kita jatuh cinta dari waktu ke waktu lewat tulisan indah.
Tuhan selalu memberi cara yang indah untuk cinta.
Tapi cinta?

Setengah tahun perjalanan kisah ini, kita lebih banyak saling mengenal.
Yang aku tau dia punya karakter humor yang tinggi.
Ada saja yang membuatku tertawa selepas itu.
Ketika dia sakit, aku lah orang paling bodoh.
Tidak bisa di sampingnya, namun hanya bisa menjaganya lewat suara.
Berbagai hal indah kita bicarakan.
Berbagai tangis juga kita lewatkan.
Tapi kita tidak bisa untuk terus seperti ini...
Menjaga perasaan yang salah...
Kita tidak bisa bersama,
Kita harus berpisah...

"AKU SAYANG KAMU"
"Tapi kita adalah hubungan yang ngga pernah ada akhirnya, ngga ada ujungnya"
"Kamu yakin dengan yang seiman, hubunganmu bakalan ada akhirnya? Kamu Tuhan? Bisa nebak akhir hubungan seseorang seperti apa?"
"Kamu mikirlah, kita hidup di Indonesia. Kita ngga bisa sama-sama"
"Karena kamu ngga yakin"
"Aku takut, takut menghadapi mama papa kamu. Aku juga takut menghadapi keluarga aku"
"Karena keyakinan?"
"Gimana caranya biar kita bisa satu? Gimana?"
"Kamu nanya aku? Aku yang ikut kamu atau kamu yang ikut aku. Sama aja buatku. Kamu pikir Tuhan ada berapa? Ada 5?"
"Aku gak mau kamu ikut aku. Gak !"
"Kenapa? Karena kamu juga ngga mau ikut aku? Ya jelas, karena kamu ngga pernah yakin"
"Kamu orang yang pernah aku kenal dan paling berani resiko"
"Karena aku yakin. Udah. Cukup. Hiduplah dengan hidupmu sendiri. Aku sudah lelah"

Hidup itu pilihan. Setidaknya aku sudah berani memilih hidupku sendiri.
Tidak ada yang salah dari memilih.
Buatku, menyelesaikan masalah dari perbedaan ini adalah berpisah dan menyerah.
Bukan bersatu.
Selamat Tinggal,
Berbahagialah lebih dari bahagiaku ~


 

Minggu, 11 Januari 2015

RANU KUMBOLO

Teruntuk :
Ranu Kumbolo
Mercy !


Kita berawal dari sini...

Pertama menginjakkan kaki di tanah menuju Ranu Kumbolo...
Kita berada di barisan belakang...
Medan pertama adalah tanjakan yang sedemikian panjangnya...
Melewati itu, kita sama-sama terdiam
Saling menatap lelah !
Lalu kamu berkata :
"kalau nanti ada sesuatu yang terjadi, tolong sampaikan sama keluargaku"
Aku mendengar lelahmu, deruan nafas yang melambat.
Ku tangkas kalimat itu, "ini hutan jangan ngelantur ngomongnya"
Kemudian kami melanjutkan perjalanan...

Tidak ada jalan yang mudah untuk dilalui...
Pohon tumbang dimana-mana, jurang di sepanjang medan
Hujan, jalanan licin...

Sampai di tengah perjalanan, kakiku beku...
Air hujan yang menggenang di sepanjang jalan membuat jari-jari kaki ku kaku...
Aku merasa tak mampu lagi berjalan, kabut mulai turun...
Dinginpun mulai menjajah tubuhku...
"Aku kedinginan, kakiku kaku", eluhku
Tak lama kemudian dia mengurut jari-jariku yang kaku...
"Kita turun, perjalanan ga perlu dilanjutkan", katanya
"Nggak, aku oke kog", sambutku.
"Jangan dipaksa"
"Serius, ini udah mendingan"

Setelah beberapa menit melengangkan kakiku, kamipun melanjutkan perjalanan.
Sekitar pukul 19.00 WIB rombongan kami sampai di tujuan...
Aroma Ranu Kumbolo yang membuat kami penasaran tercium di depan mata...

Entah jam berapa waktu itu, aku mendengar nafas yang tidak biasa,
Seseorang kedinginan, tepat disebelahku.
Tanpa pikir panjang, aku peluk dia erat...
Mencoba menghangatkannya...
Karena aku masih mengingat kalimat pertamanya :
"kalau nanti ada sesuatu yang terjadi, tolong sampaikan sama keluargaku"
Saat itu, dalam benakku hanyalah kamu tanggung jawabku...
Kamu bersamaku disepanjang jalan, melalui semua menggenggam tanganku erat...
Dan sekarang, kamu lemah...
Akulah yang harus menguatkanmu, mengalahkan dingin bersama...
Aku cuma ngga mau terjadi sesuatu sama kamu...
Aku yang akan menjagamu disini...

01.08
ada rasa yang tumpah disitu...
dibawah langit dengan sejuta bintang...
dingin yang tak lagi kita rasa...
dan kita adalah sepasang bintang baru yang jatuh...

Kamu adalah alasanku, kita bisa sampai pada tujuan yang sama...

Ranu Kumbolo punya cerita
Ranu Kumbolo in love . . .
Ranu Kumbolo : a place where is the love was begin


24 Desember 2014



Minggu, 07 Desember 2014

V E S P A L G I A




Ingatkah ketika aku kecil dulu, kau mengantarkan ku ke sekolah dengan vespa merah? Aku berdiri di depan dengan tas kecil yang ku kalungkan. Sepanjang jalan engkau selalu bertanya, “suka diantar papa?” dan aku selalu menjawab “suka”. Berdua kita menelusuri jalan, melewati deretan aspal hitam, jejeran pohon dan bangunan sampai aku tiba di sekolah.

Saat jam pulang sekolah tiba, kau sudah menunggu di luar pintu. Begitu kita bertemu, kau segera menggandeng tanganku, mengajakku berdiri diatas vespa merahmu. Kita ulangi lagi menelusuri jalan, melewati deretan aspal hitam, jejeran pohon dan bangunan sampai aku tiba di rumah.

Aku dan kau adalah masa kecil ku yang romantis. Terima kasih papa, telah menjadi teman paling menyenangkan sejak aku kecil hingga sekarang. Maukah kita ulangi lagi masa kecil romantis itu, tentunya dengan vespa abu-abumu papa.

Jumat, 31 Oktober 2014

RAGU

ketika ragu jalan satu-satunya adalah kembali

ku antar kamu menuju arah pulang,
supaya tak lagi terus berjalan di sepanjang jalan yang ragu
supaya tak lagi ada pengorbanan yang tak berarti...

ku antar kamu pulang dengan benci,
supaya lebih cepat kamu lupa...


jangan berbalik arah,
aku tetap berdiri di balik punggungmu,
melihat kamu menjauh diantar waktu...

jangan menoleh ke belakang,
air mataku tak lagi mampu ku bendung
ia menetes terus dan terus

jangan berbalik ke belakang...
aku ngga mau kamu kembali karena air mataku,
aku mau mengantarmu pulang
sampai pada asalmu...

suatu saat aku harap ada hati yang tak lagi membuatmu ragu...

selamat tinggal keraguan,
selamat menikmati kekecewaan ~